Sekilas ketiganya tampak sama, bahkan ada yang bilang mereka bertiga sinonim. *bagai pinang dibelah tiga (haha)* Namun nyatanya frustasi, stres dan depresi adalah tiga hal yang berbeda bagai bumi dan langit. Penasaran? Cus Read More!
Kita mulai dari definisi, menurut WHO (2003),
stres → reaksi/respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental/beban kehidupan).
Sedangkan frustrasi, berasal dari bahasa Latin frustratio → perasaan kecewa atau jengkel akibat terhalang dalam pencapaian tujuan.
Semakin penting tujuannya, semakin besar frustrasi dirasakan. Rasa frustrasi bisa menjurus ke stres.
Sedangkala depresi → suatu kondisi yang melebihi keadaan sedih. *sedih berat deh bahasa gaulnya*
Penyebab stres sangat umum karena berasal dari luar dan bisa dialami semua orang. Seperti tekanan pekerjaan di kantor, kebisingan, lingkungan baru, ancaman, tugas sekolah, ujian, urusan rumah tangga, ekonomi, dan lain-lain.
Intinya penyebabnya banyak berasal dari lingkungan dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Gejala stres mencakup perubahan fisik(pusing, mual, sesak nafas, tekanan darah tinggi, dll); psikologis (takut atau tegang, cemas berlebihan, cepat marah, kesedihan, mendadak sinis, dll); dan perilaku(Stress yang sudah akut hingga membuat seseorang kehilangan akal sehat→penyalahgunaan obat atau alkohol juga menarik diri dari dunia sosial)
Sedangkan frustrasi lebih ke kegagalan pencapaian sesuatu. Ketika kita ingin meraih sesuatu namun gagal, itulah frustasi. *seperti gagal mendapatkan hatinya misalnya(jangan salah paham, ini bisa ke siapa saja* Jadi faktor utama frustasi ↠ rasa kecewa karena kegagalan diri dalam mencapai sesuatu. Singkatnya, Realita yang tidak sesuai ekspektasi.
Intinya frustrasi itu bikin kecewa, kesal lalu marah-marah. Biasanya mahasiswa tingkat akhir banyak yang frustrasi sama dosen pembimbingnya gara-gara skripsinya salah terus, dan itu bikin kecewa lalu mahasiswa akan marah-marah *di belakang tapi*.
Yang terakhir, depresi. Depresi itu semacam perasaan sedih yang parah banget. Lebih parah dari stres dan biasanya menuju gangguan kejiwaan. Namun depresi bisa disembuhkan dengan terapi psikologis, spiritual, maupun bantuan dari orang-orang terdekat.
Bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi.
Menurut Diagnostic and Statistical Manual IV - Text Revision (DSM IV-TR) (American Psychiatric Association, 2000), seseorang menderita gangguan depresi jika mengalami keadaan emosi depresi/tertekan sebagian besar waktu dalam satu hari hampir setiap hari.
Kehilangan minat atau rasa nikmat terhadap semua, atau hampir semua kegiatan sebagian besar waktu dalam satu hari hampir setiap hari, hilangnya berat badan *kaum hawa yang pengin pasti senang* yang signifikan saat tidak melakukan diet atau bertambahnya berat badan secara signifikan, insomnia, kegelisahan, melambatnya gerakan psikomotorik, perasaan lelah, perasaan tidak berharga, perasaan bersalah, sulit berpikir dan berkonsentrasi, muncul pikiran untuk bunuh diri *Jika ingin masuk surga, jangan lakukan*
Q: Kalau galau? Itu masuk ke mana?
A: Masuk bahasa alay. Hehehe*
Itulah sekilas perbedaan stres, frustrasi dan depresi. Banyak alternatif cara untuk menghilangkan stres, frustrasi dan depresi. Seperti melalui motivasi, sharing, konseling, curhat, merasa bersyukur dan lain-lain. Namun Jeiha sangat yakin terapi humor adalah yang terbaik. Karena, seringkali ada salah satu teman Jeiha yang kayak stress. Dan saat mereka mendengarkan humor atau jenaka, seketika wajah mereka cerah ceria. Jei-pun terkadang juga begitu.
Intinya jangan sampai kamu jadi penyebab stres atau depresi atau frustrasi bagi orang lain. Cukup diri sendiri aja yang stres. #salamsenyumbahagia. Btw, ada yang mau curhat? Insya Allah, Jei mau membantumu. Curhatnya di email aja (=⌒▽⌒=)
Artikel from: https://campus.imcnews.id/read/yuk-kenali-perbedaan-antara-frustrasi-stres-dan-depresi
Edited: Jeiha♥
Tidak ada komentar:
Posting Komentar